Panahan dan Kekinian

foto gemabali 900 600
foto gemabali 900 600

Tulisan ini masih berkaitan dengan tulisan sebelumnya yang berjudul: “Masa Lalu dalam Kaca Spion” di kolom artikel yang sama. Kekinian adalah kunci dari kestabilan mental; melekat pada situasi yang telah berlalu akan membuat disorientasi akan masa kini; kecenderungan untuk mengontrol hasil di masa depan akan membuat perasaan khawatir hadir di masa kini. Semua hal itu akan dijabarkan kembali dengan menggunakan olah raga panahan sebagai analogi.

Jika melihat dari televisi ataupun rekaman video turnamen di media sosial, olah raga panahan tampaknya mudah sekali. Ritme yang dijalankan hanya sekedar mengangkat busur, menarik anak panah, fokus pada sasaran, dan melepaskan anak panah saat titik fokus sudah didapat. Semuanya akan tampak mudah jika menjadi penonton. Tetapi, apakah kemudahan tersebut juga berlaku jika posisi berubah menjadi pelaku (atlet) yang menarik anak panah?

Berada di posisi atlet yang menarik anak panah adalah hal yang sangat berbeda dari sekedar menjadi penonton. Faktanya, dibutuhkan kekuatan otot yang terlatih untuk menarik busur, fokus yang kuat dan mantab saat membidik sasaran, dan ketenangan yang tetap stabil terlepas dari apapun yang terjadi. Otot dan fokus dapat disempurnakan dengan rajin dan teratur berlatih di bawah pelatih yang hebat.

Tetapi, terdapat hal yang berbeda pada aspek fokus dan ketenangan: rajin berlatih teknik dan fisik tanpa melibatkan kesadaran akan kekinian tidak akan menimbulkan fokus dan ketenangan. Lalu, bagaimana perbedaan tersebut dapat terjadi?

Pada dasarnya, kuasa atlet terhadap busur dan anak panah hanya sebatas memasang kuda-kuda, fokus pada sasaran, menarik anak panah kebelakang, dan melepaskan anak panah saat pertemuan kesemua varibel tersebut terjadi dengan optimal. Anak panah yang sudah terlepas tentu saja sudah bukan kuasa atlet lagi. Akan ada banyak variabel yang berkontribusi pada ketepatan anak panah setelah terlepas dari busurnya–misalkan saja, arah angin yang tak menentu.

Keegoisan untuk mengarahkan anak panah yang sudah terlepas tentu saja akan memengaruhi pergeseran busur–walaupun hanya sepersekian milimeter–dan hal itu akan memperburuk ketepatan dari arah tembakan. Hal yang serupa juga dapat terjadi saat perhatian masih tertinggal di anak panah yang sudah menancap di luar titik sasaran. Perasaan menyesal akan anak panah salah sasaran tersebut–diibaratkan dengan masa yang sudah berlalu–akan sangat memengaruhi ketepatan pada tembakan berikutnya.

Pada kondisi tersebut, kunci utama–kembali lagi–adalah tetap fokus pada kekinian. Saat atlet–dengan teknik dan otot yang tidak bermasalah–memanah dengan hanya menikmati periode menarik anak panah dan merelakan batasan kekuasaannya terjadi saat anak panah terlepas, hasil tembakan yang optimal pun akan selalu mengikuti. Hal yang berkebalikan–tembakan buruk–biasanya malah sering terjadi saat atlet berusaha sekuat mungkin agar anak panah tepat sasaran tanpa memedulikan kenikmatan akan kekinian.

Fokus pada ketepatan sasaran yang belum terjadi–dalam hal ini–adalah analogi dari fokus terhadap masa depan yang sebenarnya bukan lagi kekuasaan absolut manusia. Manusia hanya memiliki hak yang terbatas pada memperbesar ataupun memperkecil kemungkinan dari hal yang terjadi di masa depan–dengan fokus pada busur dan anak panah yang dipegang–dan bukan pada hasil absolut di masa mendatang.