'Metaverse': Melompat dari Dunia Semu Lama ke Dunia Semu Baru

'Metaverse': Melompat dari Dunia Semu Lama ke Dunia Semu Baru
'Metaverse': Melompat dari Dunia Semu Lama ke Dunia Semu Baru

 

Baru-baru ini, Facebook Inc–sebuah perusahaan yang menaungi media sosial Facebook, Whatsapp, dan Instagram–berganti nama menjadi Meta Platforms Inc. Penggantian nama tersebut bukan tanpa sebab. Pemilik perusahaan menyelipkan kata “Meta” karena hendak membawa perusahaan tersebut ke ranah metaverse.

Metaverse sendiri adalah dunia baru yang berbasis realitas virtual yang memungkinkan penggunanya memiliki “hidup” dan berinteraksi dengan pengguna lainnya di dunia baru tersebut: kehidupan semu yang mirip dengan dunia nyata dengan dimensi ruang dan variabel waktu yang berjalan secara langsung (real time).

Benda-benda di kehidupan metaverse diciptakan semirip mungkin dengan realita dan akan menyesuaikan dengan keinginan penggunanya. Rumah, penginapan, pusat perbelanjaan, warung kopi, dan bahkan wahana petualangan melawan monster dapat disediakan di dunia ini.

Seseorang dapat berada pada dunia  metaverse dengan menggunakan avatar yang mewakili dirinya. Karena dalam ranah virtual, maka hal-hal yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata sangat mungkin untuk dilakukan di alam ini. Hal-hal tersebut juga masih dalam kontrol penggunanya.

Contohnya, seseorang pengguna dapat mengubah bentuk avatar sebagai wujud dirinya di dunia maya dengan sesuka hati dan instan–sesuatu yang sangat sukar dilakukan di dunia nyata. Tubuh atletis, wajah cantik, rambut indah, atau apapun bentuk yang diinginkan dapat langsung diwujudkan hanya dengan mengaktifkan aplikasi.

Metaverse diciptakan untuk mengakomodasi keinginan penggunanya akan realita baru yang tidak dapat terjadi di dunia nyata; semua benda yang ada di metaverse hanyalah semu belaka. Faktanya, kopi yang ada di metaverse tidak bisa mengisi perut penggunanya secara langsung. Pengguna hanya berandai-andai meminum kopi tanpa sedikitpun menyentuh kopi.

Begitu pula dengan kepemilikan rumah: pengguna tetap tidak akan dapat berteduh dengan menggunakan rumah virtual. Bagaimana dengan avatar? Seindah apapun avatar yang dibuat oleh pengguna, avatar tetaplah semu. Postur tubuh atletis dan seksi, wajah cantik, rambut indah, dan kelebihan apapun yang menempel pada avatar tetap bukanlah diri dari pengguna itu sendiri.

Saat menikmati wajah avatar yang dipakai, pengguna dapat mengatakan, “Ini adalah wajahku di dunia metaverse. Walaupun aku memiliki wajah ini, wajah ini jelas bukan ‘aku’. Lalu, siapakah ‘aku’?”. Begitu pula saat menikmati tubuh atletis. Pengguna dapat mengatakan, “’Aku’ memiliki tubuh atletis di dunia metaverse, tetapi tubuh ini bukanlah ‘aku’. Siapakah ‘aku’ yang memiliki tubuh ini?”. Apakah yang terjadi? Avatar ternyata bukan diri manusia yang sejati. Semuanya adalah semu.

Apakah dunia semu itu hanya terjadi di metaverse?

Bagaimana jika logika tersebut digunakan pada realitas fisik manusia? Bagaimana dengan pertanyaan “Ini adalah wajahku. ‘Aku’ pemilik wajah ini sehingga wajah ini jelas bukan ‘aku’. Oleh karena itu, siapakah ‘aku’ yang memiliki wajah ini?” Atau pertanyaan, “Ini adalah tubuhku, pikiranku, dan perasaanku. ‘Aku’ adalah pemilik tubuh, pikiran dan perasaan ini. Oleh karena itu, kesemua itu tentu saja bukan ‘aku’. Lalu, siapakah ‘aku’?”

Dari beberapa pernyataan tersebut, konsep dari dunia fisik ternyata tidak jauh berbeda dari dunia virtual yang ditawarkan oleh metaverse. Ternyata, kondisi semu bukanlan hal yang baru. Dunia fisik pun, bisa jadi merupakan sebuah kondisi semu yang perlu ditelaah lebih lanjut. Ditelaah dengan kesadaran meditatif yang radikal.