Kesehatan Mental, Pandemi, Bunuh Diri

Rumah Berdaya Denpasar (Fix)
Rumah Berdaya Denpasar (Fix)

Pria yang suka menulis novel itu tampak berbaring santai di bawah pepohonan. Di sela jarinya, terselip sebatang rokok yang sedang menyala. Itu adalah rokok kesekian kalinya sore itu.

Ia menghadiri acara diskusi tentang puisi dan terapi yang dihubungkan dengan skizofrenia, penyakit mental yang belakangan banyak menghinggapi anak muda. Diskusi berlangsung di Denpasar, Bali, pertengahan Mei 2021.

Namanya Saka, ia tak mau dipanggil dengan nama lengkap. Saya menyapanya, dan ia menjawab dengan suara pelan. Seminggu sebelum kami bertemu dalam diskusi tersebut, ia mengaku  berobat di Rumah Berdaya Denpasar, komunitas pemberdayaan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) termasuk di dalamnya pengidap skizofrenia, gangguan mental berat yang ditandai munculnya halusinasi dan waham atau delusi.

Saya dan Saka bertemu pertama kali beberapa tahun lalu.  Kala itu, ia datang dengan tampilan wah; berkaca mata hitam, mengendari sepeda motor sport namun dengan pakaian tak lazim bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Saya menyangka ia seniman. Gaya bicaranya lugas, seperti ciri khas masyarakat pesisir di Bali. Benar saja, dalam obrolan ia mengatakan berasal dari Buleleng, kabupaten yang pada masa penjajahan Belanda merupakan ibu kota Sunda Kecil, wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Saka banyak menyebut soal telepati. Ia mengaku memilki kekuatan supranatural tersebut. Saka bicara tentang hal tersebut dengan sangat percaya diri. Bagi saya yang memang sejak dulu menyukai spiritualitas dan meditasi, apa yang ia bicarakan bukan merupakan hal asing. Terlebih, di masa lalu saya pernah tertarik mempelajari bidang itu.

Melihat dan mengenal Saka, saya seperti berhadapan dengan cermin. Dulu, saya pernah kuliah, banyak membaca buku, dan amat suka berdiskusi. Debat menjadi sesuatu yang tak terhindarkan saat saya bertemu dengan narasumber sebuah diskusi, dalam seminar atau di luar ruang kuliah saat kawan-kawan sejalan, anak-anak muda yang gelisah, belum merasa puas atas pelajaran atau ilmu yang didapat dari kampus.

Saka adalah anggota Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) simpul Bali, yang sejak 2015 aktif mengedukasi warga Kota Denpasar dan Bali pada umumnya tentang kesehatan mental, terlebih bagi mereka yang diagnosis mengidap penyakit mental, utamanya skizofrenia, yang menurut riset resmi banyak menghinggapi anak remaja dan dewasa, dari usia 15 hingga 25 tahun.

Komunitas inilah yang banyak membantu Saka, terutama soal pengobatan. Bagi ODS dan ODGJ yang secara ekonomi belum mandiri, layanan kesehatan yang diberikan KPSI simpul Bali tentu sangat berarti. Terlebih, pada masa itu, Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum mapan seperti saat sekarang, masih ada kekurangan di sana-sini.

Atas inisiatif dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ, psikiater asal Dalung, Kuta Utara, Badung--dari informasi yang didapat olehnya di media sosial, hatinya tergerak untuk membuat komunitas kesehatan mental di Bali. Di bawah naungan KPSI Pusat Jakarta yang diketuai oleh Bagus Utomo, alumnus perguruan negeri terkenal di Jakarta yang mendedikasikan hidupnya untuk membangun jejaring kesehatan mental di Indonesia.

Ketertarikan Bagus Utomo berawal dari pengalaman  pribadi di mana ia memiliki seorang kakak laki-laki yang mengidap skizofrenia. Dengan segala suka-duka yang dialami, pada masa pengetahuan dan isu kesehatan mental belum banyak diketahui seperti pada masa sekarang. Gayung pun bersambut, keinginan untuk membentuk KPSI simpul Bali mendapat restu dan izin dari KPSI Pusat Jakarta.

Pada waktu itu, saya secara tak sengaja mengetahui tentang adanya “kopi darat” atau pertemuan perdana KPSI simpul Bali dari media sosial. Kala itu saya bekerja sebagai resepsionis sebuah penginapan di Tanjung Benoa, wilayah turisme yang terketak di Kelurahan Benoa. Kuta Selatan.

Dari sebuah laptop keluaran lama yang terkoneksi dengan internet, saya membaca kabar itu dengan hati senang. Memang, pada waktu itu saya telah mengetahui tentang skizofrenia dari dokter jiwa yang merawat saya di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Bangli, nama lama yang kini diganti dengan Rumah Sakit Jiwa Provinsi Bali, hanya saja masih samar-samar dan tidak terlalu terang.

Kabar akan dibentuknya KPSI simpul Bali mengandung banyak harapan pada diri saya, tentang diri yang tak sendiri mengalami penyakit mental berat ini. Ada secercah cahaya dan masa depan yang tidak lagi suram, dan banyak lagi impian dan imajinasi yang menyertai saya.

Saat itu, setiap dua minggu sekali saya berangkat dengan sepeda motor melewati jalan tol Bali Mandara ke Kota Denpasar. Bertemu tujuh hingga delapan kawan-kawan senasib dan sepenanggungan, “saudara” yang kebetulan dalam nasib dan kondisi serta hidup yang kurang beruntung dan sedang sakit dalam jaringan KPSI Bali.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan KPSI simpul Bali makin terdengar luas di masyarakat, hingga ke telinga Wali Kota Denpasar. Pada masa itu diemban oleh IB Rai Dharmawijaya Mantra lebih dikenal dengan nama Rai Mantra.

Melalui audiensi, kami menyampaikan apa yang menjadi hambatan kami kala itu yakni sekretariat, kantor, sekaligus tempat untuk berkumpul dan berkegiatan. Oleh Bapak Rai Mantra, melalui tahapan proses, akhirnya kami diberikan gedung pemerintahan yang tak terpakai waktu itu, di Jalan Hayam Wuruk, Denpasar.

Kami sangat gembira menyambutnya. KPSI simpul Bali kemudian menjadi induk organisasi dari Rumah Berdaya Denpasar, organisasi yang kini dinaungi Pemerintah Kota Denpasar, didukung oleh dua dinas pemerintah yakni, Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial Kota Denpasar. Kegiatan kami bertambah banyak, seiring makin bertambahnya anggota, kami menyebutnya “warga”, yang membuat suasana sekretariat setiap hari semarak, penuh canda tawa, keriangan, dan kebahagiaan.

Tak hanya berkegiatan harian seperti berkebun, membuat dupa/hio, kami juga dilatih untuk berkegiatan dalam bidang seni. Diberikan oleh Ketemu Project, sebuah lembaga seni pimpinan Budi Agung Kuswara, seniman Bali mulitalenta yang juga merupakan salah satu pendiri awal Rumah Berdaya Denpasar. Dialah yang menyemangati kami untuk berkarya; menggambar, melukis, dan membuat kerajinan tangan. Sebagian kerajinan menjadi barang dagangan yang dijual kepada para pengunjung atau saat kami diundang mengikuti berbagai pameran dan eksibisi seni di Denpasar.

Di sanalah saya bertemu dengan Saka, seperti yang saya ceritakan pada awal cerita ini. Bagi KPSI simpul Bali dan Rumah Berdaya Denpasar, kawan-kawan ODS dan ODGJ adalah warga komunitas, tak ada diskriminasi, atau bahkan stigma, sesuatu yang sejak dulu kami lawan.

Para pengurus komunitas, psikiater, psikolog, perawat bahkan hewan peliharaan kami di tempat itu sangat menyatu. Seperti sebuah keajaiban, ada perekat di antara kami semua, perasaan satu saudara, persatuan yang bertahan hingga kini. Saat Rumah Berdaya Denpasar tidak lagi berlokasi di Jalan Hayam Wuruk, dan bergeser ke tempat baru di Kelurahan Sesetan, Denpasar Selatan, Bali.

Putus obat di tengah pandemi

Bagi ODS, putus obat adalah sesuatu yang menakutkan, karena dapat menimbulkan relapse atau kekambuhan. Itu juga yang dialami oleh Saka beberapa waktu lalu. Ia yang biasanya sebulan sekali mendapat suntikan obat anti-psikotik di Rumah Berdaya Denpasar tiba-tiba tak mau berobat. Alhasil, hal tersebut berdampak pada kesehatan mentalnya; ia mulai mengalami delusi pendengaran dan pengheliatan; merasa diawasi oleh NASA, Badan Antariksa Amerika Serikat, serta menghubungkan apa yang ia baca dan lihat di media sosial dengan apa yang ia alami. Syukurlah, atas kemauan sendiri dan karena desakan istri dan keluarganya ia mau kembali berobat dan keadaannya kini makin membaik.

Saya pun demikian. Pada 2011 saya mengalami putus obat dan dirawat kembali di RSJ Bangli selama dua minggu, sama seperti saat skizofrenia menyerang pertama kali pada 2009. Setelah itu saya tak berani lagi untuk absen meminum obat, karena akan menyusahkan tak hanya diri sendiri tapi juga keluarga, pasangan dan lingkungan sekitar.

Dulu, sebelum mengenal KPSI saya berobat di layanan kesehatan yang disediakan oleh RSJ Provinsi Bali (dulu bernama RSJ Bangli) di mana sebulan sekali petugas kesehatan datang ke seluruh kecamatan se-Bali setiap sebulan sekali dengan sistem ‘jemput bola’mendata ODGJ dan memastikan ketersediaan obat untuk mereka. Program tersebut kini tidak ada lagi, padahal hal itu bagus sekali, dibandingkan jika ODGJ berobat langsung ke RSJ yang kadang terkendala jarak, waktu dan keadaan ekonomi yang tak sama bagi tiap ODGJ dan keluarga atau caregiver mereka.

Pada masa Pandemi Covid-19 yang melanda hampir seluruh bagian wilayah di dunia, kegiatan di Rumah Berdaya Denpasar masih berjalan, hanya saja memakai sistem buka-tutup. Para pegawai berasal dari Dinas Sosial Kota Denpasar dan lima pegawai dari ODS yang oleh pemerintah kota diangkat dan diperbantukan di Rumah Berdaya Denpasar.

Pekerjaan mereka sedikit terhalang karena kondisi dan keadaan. Beberapa kali kota di-lockdown yang berakibat antar jemput bagi warga Rumah Berdaya tidak lagi bisa dilakukan rutin, seperti masa di awal sebelum Pandemi.

Hal ini berimbas pada layanan pemberian obat bagi ODS dan ODGJ. Menurut I Nyoman Sudiasa, Koodinator Rumah Berdaya Denpasar, kondisi tersebut memang menjadi sebuah dilema.

“Supaya kawan-kawan tidak mengalami putus obat, kami mengintensifkan komunikasi dengan para keluarga yang menjadi pengampu. Mereka rutin mengambil obat bagi anggota keluarganya ke sini (Rumah Berdaya Denpasar),” ujar Sudiasa.

Pandemi, tak hanya membuat layanan kesehatan terhadap ODGJ dan ODS terhambat. Lebih luas dari itu, banyak warga kota yang ditengarai mengidap gangguan mental, baik dalam skala kecil maupun besar. Kecemasan, ketidakpastian akan masa depan dalam kaitannya kapan pandemi berakhir, adalah beberapa hal yang menganggu pikiran banyak orang. Tak hanya di Bali dan Indonesia tapi juga banyak negara lain di Asia dan di benua-benua lain di dunia.

Pendapat ini diperkuat oleh dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ. Saat diwawancara dua pekan lalu, ia mengatakan, pandemi Covid-19 tak hanya memporak-padakan segi ekonomi keluaga tapi juga kesehatan mental.

“Hal ini dialami hampir segala segmen atau usia, mulai dari anak-anak hingga manusia lanjut usia atau lansia. Anak yang sebelumnya bersekolah, bergaul, sejak pandemi berdiam di rumah dan belajar secara daring, diajar oleh orang tua yang bukan guru. Ini yang membuat mereka stress,” kata Rai Putra Wiguna.

Lain halnya dengan kaum lansia, lanjut Rai, mereka kesulitan juga di masa pandemi. Perhatian anggota keluarga terhadap mereka menjadi berkurang, karena anak dan cucu serta kerabat lain berfokus pada pengajaran dan bagaimana mempertahankan hidup dalam hal ini ekonomi keluarga.

“Para ibu dan perempuan bisa dibilang mengalami dampak terbesar, karena mereka mesti bersiasat, membantu kepala keluarga mencari tambahan penghasilan. Belum lagi jika ayah atau suami mereka mengalami pemutusan hubungan kerja atau PHK. Makin besar beban mereka,” jelas pskiater utama Sudirnam Medical Centre (SMC), sebuah klinik swasta di Denpasar.

Solusi di tengah pandemi

Menurut Rai, hal ini bertambah parah saat kebutuhan kesehatan mental di masa pandemi meningkat. Ironisnya, layanan kesehatan mental baik di rumah sakit maupun di Puskesmas banyak yang tutup akibat kebijakan antisipasi penularan wabah yang dibuat oleh pemerintah.

“Para ODS dan ODGJ yang selama ini menjalani terapi menjadi putus pengobatan, sehingga banyak dari mereka yang mengalami relapse atau kekambuhan,” kata Rai.

Data di kota Denpasar perihal jumlah ODGJ yang relapse, bisa kita lihat pada tim Kesehatan Jiwa (Keswa) yang bertugas mengevakuasi kawan-kawan ODGJ dan ODS yang mengalami relapse atau kambuh berat dan membawa mereka untuk rawat inap ke RSJ pada tahun 2020 berjumlah 54 orang.

“Data tahun 2021, hingga bulan Mei, kebetulan KPSI Simpul Bali mengadakan survei yang dibantu oleh para mahasiswa keperawatan dari STIKES Bina Usada yang sedang KKN di Rumah Berdaya Denpasar, ada sejumlah ODGJ yang didalamnya termasuk ODS sejak pandemi berlangsung mengalami putus obat, relapse ringan namun tetap bisa mencari pertolongan medis dan melanjutkan pengobatan,” ungkap Rai.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Denpasar, ada sekitar 540 ODS di Kota Denpasar dan yang relapse berat saat pandemi berlangsung 54 orang berarti 10 % angka ODS yang mengalami re-hospitalisasi, dirawat kembali di RSJ Provinsi Bali.

“Itu data yang kita ketahui, dari keluarga yang kesulitan membawa anggota keluarganya yang mengalami gangguan mental ke RSJ. Belum termasuk angka yang tak terihat atau terdata,” kata Rai.

Sebelum pandemi, angka kunjungan pasien ke RSJ menurun karena cukup banyak pasien gangguan mental telah ditangani oleh rumah sakit pemerintah dan swasta di kabupaten/kota di Bali.

Saat pandemi, jumlah pasien RSJ Provinsi Bali meningkat, bisa jadi karena jumlah ODGJ dan ODS yang mengalami relapse meningkat. Di sisi lain, layanan rumah sakit umum selama pandemi menurun, misalnya rumah sakit pemerintah seperti RSUP Sanglah selama pandemi tidak melayani rawat inap karena dipergunakan sebagai rumah sakit perawatan pasien Covid-19.

Maka itu, menurut Rai Putra Wiguna, WHO yang mengatakan 93 % layanan kesehatan jiwa di seluruh dunia selama pandemi menurun ada benarnya, karena rumah sakit umum dan pemerintah banyak yang tutup, jadi pilihan bagi masyarakat yang mempunyai anggota yang mengalami gangguan mental untuk berobat dan rawat inap adalah RSJ, itu pun nantinya akan menjalani proses screening dan lainnya sesuai aturan terkait pandemi Covid-19

“Kita bicara yang sakit sebelum pandemi, belum pasien baru selama pandemi terjadi, sangat ruwet tentunya, dalam hal pengobatan, mencari ruang rawat inap di masa Covid-19 menghantui,” pungkasnya.

Tambah dia, jika sebelum pandemi bisa dirawat di rumah selain pengobatan di tingkat paling bawah yakni Puskesmas, kini saat pandemi sangat sulit karena mesti mengingatkan ODGJ dan ODS wajib memakai masker, menjaga jarak bahkan membatasi bepergian ke luar rumah, dan lain-lain. 

Jangankan warga lokal, kata Rai, di Bali, selama pandemi berlangsung, warga ekspatriat atau wisatawan yang menetap di Bali juga banyak yang mengalami gangguan mental, dari gangguan cemas hingga depresi.

“Saya secara pribadi bersama Yayasan Bali Bersama Bisa, melalui L.I.S.A Helpline, dalam dua bulan terakhir merawat 4 (empat) warga asing mengalami percobaan bunuh diri. Rata-rata setelah dua minggu menjalani pemulihan kondisi mereka kini lebih baik.,” jelasnya.

Dikatakan Rai, pada masa pandemi yang hampir 1,5 tahun berlangsung, banyak warga ekspatriat kesulitan untuk kembali ke negara asalnya, Sementara, jika ingin tetap tinggal di Bali mesti bekerja untuk bertahan hidup. Bahkan, di media massa dan media osial ramai dibicarakan tentang turis yang mengemis atau mencari makan di tempat sampah.

“Hal itu membuat kita semua prihatin, karena bisa menimbulkan keinginan untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri yang memang sejak dulu di Bali menjadi masalah laten yang jarang dibicarakan secara terbuka,” sebut Rai.

Untuk itu, ia bersama para pegiat kesehatan mental di Bali menggagas dan membuat Love Inside Suicide Awareness (LISA) Helpline, sebuah layanan 24 jam berbasis komunikasi daring dan luring yang bisa diakses sejak 6 April 2021 oleh semua kalangan. Tanpa memandang jenis kelamin, agama, kewarganegaraan, orientasi seksual, maupun pandangan politik, secara gotong royong, menyeluruh dan bersifat insklusif.

Apa yang dikerjakan oleh Rai Putra Wiguna dkk merupakan daya lenting, bagaimana komunitas mampu membantu pemerintah, bergerak secara mandiri mengatasi persoalan, tak hanya dialami oleh diri sendiri sebagai pegiat kesehatan mental yang notabene terdampak pandemi, namun juga berusaha membantu anggota keluarga bahkan warga lain yang juga memiliki beban yang sama.

“Kami ingin mengkampayekan perihal kesehatan mental yang sejatinyas sangat penting, sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Apa yang kami lakukan merupakan kolaborasi dari 11 LSM/Komunitas di antaranya Rumah BISAbilitas (beragam jenis disabilitas), Komunitas Seni Tuna Netra Teratai (Kostra), Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia simpul Bali, Komunitas Bipolar Bali, Movement of Recovery (yayasan gerakan pemulihan korban narkoba di Bali), yayasan Paramacitha (HIV/AIDS), TransPuan yayasan GAYa Dewata (LGBT), Love and Strong Women (komunitas wanita penyintas kanker), Gender, Sexuality and Human Right (GSHR) Udayana, Youthable (komunitas remaja) dan dan Komunitas Teman Baik (kesehatan jiwa),” kata Rai.

Secara teknis, warga yang mengalami masalah dapat menelepon atau mengirim pesan ke nomor 08113855472 (Bahasa Indonesia) dan 08113815472 (English).

“Nantinya akan dilayani oleh pekerja sosial yang telah memperoleh pelatihan baik dalam bidang kesehatan mental atau ilmu yang lain. Jika dirasa perlu mendapat pertolongan dari professional kesehatan jiwa seperti psikolog atau psikiater,” pungkas Rai.

Lucky Marmer pegiat Yayasan Bali Bersama Bisa menyampaikan, sejak dibukanya layanan darurat dan konseling L.I.S.A Helpline pada 6 April 2021 hingga 16 Juni 2021, terdapat 100 service users atau pengguna yang telah menghubungi layanan kesehatan mental ini, baik melalui WhatsApp (WA) Chat, WA Call, maupun telepon biasa. Terhitung 15 orang yang melakukan konseling dengan profesional maupun support buddy L.I.S.A, baik secara tatap muka mau pun secara online.

“Domisili mereka 33% dari Bali, sisanya dari luar Bali seperti DKI Jakarta, Manado, Yogyakarta, dan wilayah Jawa Tengah lainnya, Aceh, Surabaya dan daerah Jawa Timur lainnya serta Bandung. Dilihat dari segi usia, rata-rata 14 hingga 47 tahun, dominan usia 20-an,” ujar psikolog klinik swasta terkenal di Denpasar ini.

Ia menambahkan, warga masyarakat yang menghubungi L.I.S.A sebagaian besar memiliki pemikiran bunuh diri atau mengakhiri hidup, sebanyak 47 % dari total keseluruhan service users.

“Kasus umum yang mereka hadapi misalnya masalah dengan pasangan atau putus pacar,  kesulitan finansial seperti memiliki utang, bullying atau perundunganm dan riwayat gangguan mental seperti depresi, bipolar disorder, gangguan kecemasan. Termasuk masalah KDRT dalam keluarga,” katanya.

Lucky menncontohkan satu kasus yang dialami Tia, bukan nama sebenarnya, seorang ibu berusia 30-an menghubungi L.I.S.A pada pukul 01.00 dini hari.  Selama 10 menit ibu tersebut menangis dan mengatakan “Saya capek, saya capek” beberapa kali kepada support buddy yang bertugas.

Dalam kondisi demikian support buddy menuntun Tia untuk lebih rileks dan meneruskan jika ingin menangis, serta memberitahu bahwa support buddy bersedia mendengarkan jika ia sudah siap untuk bercerita.

Berselang beberapa menit, Tia terdengar lebih tenang dan dapat bercerita. Rasa lelah yang dimilikinya timbul karena adanya konflik dengan suami dan sikap suami yang overprotektif terhadap dirinya. Beberapa tahun yang lalu, Tia pernah melakukan upaya bunuh diri karena merasa sudah tidak mampu menahan beban emosionalnya, tetapi suaminya melihat dan memintanya untuk tidak melakukannya.

Pada saat menelepon ke layanan L.I.S.A, ia mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan selendang untuk mengakhiri hidup. Tetapi, pikiran tersebut terhenti ketika ia selalu mengingat anaknya. Akhirnya ibu tersebut memilih untuk menelepon ke layanan L.I.SA. Setelah satu jam Tia bercerita kepada support buddy tentang apa yang ia rasakan dan alami, ia mengaku merasa lebih tenang karena ada yang mendengarkannya.

Tia menyampaikan, dia akan berusaha  melakukan komunikasi kepada suaminya, juga membuat daftar hal-hal yang coba akan ia lakukan agar rumah tangganya bisa lebih baik lagi. Support buddy juga memintanya untuk menyimpan nomor L.I.S.A Helpline untuk dapat kapan pun menghubungi kembali.

Isu kesehatan mental yang mulai ramai dibicarakan di Indonesia dan negara lain di masa pandemi mengisyaratkan bahwa perlunya layanan kesehatan mental yang lebih terintegrasi. Tak hanya oleh komunitas tapi juga negara, dalam hal ini pemerintah sebagai para pemangku kebijakan, baik di pusat maupun daerah. Kolaborasi dan sinergi menjadi hal yang sangat penting dilakukan bersama. ***