Rumah Bantu Dengar Layani Kesehatan Pendengaran

Peresmian Rumah Bantu Dengar di UPTD Pusat Layanan Disabilitas, Denpasar, Sabtu (2/7).
Peresmian Rumah Bantu Dengar di UPTD Pusat Layanan Disabilitas, Denpasar, Sabtu (2/7).

GemaBali.id (Denpasar) - Kesehatan pendengaran terutama di masa pandemi terlupakan, pemerintah dan masyarakat berfokus pada penanganan Covid-19 sehingga kurang memperhatikan masalah pendengaran yang kini menjadi perhatian di negara-negara  berkembang.

Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) Bali bekerja sama dengan Dinas Sosial Kota Denpasar dan Direct Aid Program (DAP) Konsulat Jenderal Australia di Bali, menginisiasi berdirinya Rumah Bantu Dengar, layanan inovatif yang membantu penyandang disabilitas dan masyarakat kurang mampu mengatasi masalah pendengaran.

Peresmian Rumah Bantu Dengar digelar Sabtu (2/7) di UPTD Pusat Layanan Disabilitas, Jalan Mataram No. 3, Dangin Puri Kaja, Denpasar Utara.

Ketua Pengurus YKP Bali Elsye Suryawan mengatakan, Cikal-bakal program ini adalah “BaliRungu” YPK Bali yang sejak lama memberikan layanan dalam bidang kesehatan telinga, hidung, dan tenggorakan (THT).

“Layanan ini terjangkau bagi penyandang disabilitas maupun masyarakat umum dengan latar belakang keluarga tidak mampu di Bali, khususnya Kota Denpasar dan sekitarnya,” kata Elsye.

Tambah dia, Rumah Bantu Dengar merupakan “outlet” pelayanan YPK di Kota Denpasar, sehingga pelayanan sosial YPK Bali menjadi lebih dekat dengan masyarakat serta diberikan secara cuma-cuma.

“Tentunya ini mendukung program rehabilitasi sosial serta pemenuhan hak penyandang disabilitas pada bidang kesehatan. Hal ini sejalan dengan semangat Vasudaiva Kutumbhaka sehingga tercapainya kesejahteraan sosial,” jelasnya.

YPK Bali bersinergi dengan Dinas Kesehatan Kota Denpasar, PGPKT, IDI serta pemangku kepentingan lainnya untuk bersinergi dalam melaksanakan pelayanan terpadu bagi seluruh masyarakat Bali.

“Kami juga akan  melakukan kegiatan deteksi dini bersama Puskesmas dan Posyandu, pendidikan masyarakat tentang kesehatan telinga dan pendengaran, dengan prioritas murid-murid sekolah di seluruh Bali serta bantuan alat bantu dengar,” tukas Elsye.

Diharapkan, dengan adanya Rumah Bantu Dengar ini, masyarakat di Bali dan Denpasar khususnya dapat terlayani kesehatan pendengarannya, terutama anak-anak dan murid-murid sekolah dasar dan menengah.

“Di negara-negara berkembang, anak-anak dengan gangguan pendengaran tidak memiliki masa depan sebaik anak-anak dengan pendengaran normal. Hal ini menjadi penekanan Rumah Bantu Dengar untuk mendukung lahirnya generasi penerus yang bebas dari gangguan pendengaran,” pungkas Elsye.

Ketua Koordinator Kegiatan Kesejahteraan Sosial (K3S) Kota Denpasar Ny. Antari Jaya Negara menyambut baik dan sangat mengapresiasi berdirinya Rumah Bantu Dengar.

“Banyak warga yang mengalami gangguan pendengaran termasuk anak-anak usia sekolah yang tentu dapat mempengaruhi masa depan mereka. Untuk itu, Pemkot Denpasar bekerja sama dengan beberapa stakeholders menginisiasi Rumah Bantu Dengar yang tentu dapat membantu kesehatan pendengaran masyarakat,” ujarnya.

Ny. Antara mennjelaskan, Rumah Bantu Dengar menyediakan layanan kesehatan THT bagi penyandang disabilitas maupun masyarakat umum dengan latar belakang tidak mampu secara ekonomi.

“Kami juga bekerja sama dengan IDI yang menyediakan dokter THT, sehingga kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan masyarakat kurang mampu terpenuhi haknya mendapatkan layanan kesehatan. Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak sehingga Rumah Bantu Dengar bisa terwujud,” kata Ny. Antari yang didampingi Wakil Ketua K3S Denpasar, Ny. Ayu Kristi Arya Wibawa.

Peresmian Rumah Bantu Dengar dihadiri juga oleh para undangan dari dinas-dinas terkait di jajaran Pemerintah Kota Denpasar dan Propinsi Bali, Komda Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian Provinsi Bali, Ikatan Dokter Indonesia Cabang Denpasar, Forum Komunikasi Lembaga Kesejahteraan Sosial Kota Denpasar dan Provinsi Bali maupun pihak swasta yang berkecimpung di bidang kesehatan pendengaran. (Wij/Dps)