Dunia Sunyi Penuh Arti Seniman Difabel

Penampilan remaja difabel dalam pagelaran seni 'Dunia Sunyi Penuh Arti' beberapa waktu lalu.
Penampilan remaja difabel dalam pagelaran seni 'Dunia Sunyi Penuh Arti' beberapa waktu lalu.

GemaBali.id (Denpasar) – Apa jadinya seniman difabel tampil di atas panggung? Pertanyaan itu mungkin juga ada dalam benak pembaca, karena selama ini difabel dianggap tidak normal, untuk mengurus diri saja sulit apalagi menampilkan sebuah kesenian.

Hal tersebut tidak berlaku bagi seniman difabel yang bergabung pada Sanggar Tari Sekar Dewata. Beberapa waktu lalu, mereka tampil di Taman Budaya Denpasar membawakan garapan seni. 

I Ketut Gede Bendesa, pendiri sanggar mengatakan, pertunjukkan seni itu bertajuk “Dunia Sunyi Penuh Arti”. Rekan-rekan disabilitas boleh dikata selalu memiliki semestanya sendiri, bahkan dalam situasi tertentu tidak jarang dianggap terpisahkan dari keseharian masyarakat umumnya.

“Namun, kreativitas seni kini telah melampaui sekat-sekat dan batasan yang dianggap baku selama ini. Apa yang dulu dipandang sebagai kebenaran umum, bahkan sakral, kini dimungkinkan bersanding dengan hal-hal yang profan,” ujarnya.

Bendesa menyebut,  segala terminologi atau batasan yang baku ditafsir kembali serta dikritisi, tak jarang didekonstruksi, dengan tujuan mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran atau penciptaan baru yang berangkat dari cara pandang baru.

“Gagasan dan rujukan tajuk ini juga sebuah respon kreatif atas tema pergelaran seni di Taman Budaya Provinsi Bali, yakni Danu Kerthi Huluning Cipta (Memuliakan Air sebagai Sumber Penciptaan),” katanya.

Keterlibatan difabel dalam ruang kesenian, jelas Budiasa, dapat memberikan aneka manfaat, semisal mengasah talenta di bidang seni, meningkatkan rasa percaya diri.

Juga, membuka kesempatan untuk membangun ruang pergaulan yang lebih luas antara rekan disabilitas  dengan no-disabilitas, dan  menjadi alternatif menuju kemandirian secara ekonomi.

“Pertunjukan dan apresiasi seni ini juga dapat mengedukasi rekan non-disabilitas serta menggugah lahirnya ruang interaksi melalui dialog verbal maupun non-verbal, seturut upaya mendorong rekahnya kesadaran kepedulian publik luas terhadap rekan disabilitas,” tukas Bendesa.

Pementasan dan program serupa akan diselenggarakan secara rutin dan berkelanjutan.

“Sehingga diharapkan ke depan akan memunculkan kesetaraan antara rekan disabilitas dan non-disabilitas,” pungkasnya.

Difabel unjuk gigi

Dalam pagelaran tersebut, ditampilkan presentasi tari oleh anak-anak penari tuli. Pada salah satu fragmen, tarian akan disajikan tanpa iringan musik gamelan pada sebagian pementasannya. Konsep ini berupaya membangun ruang senyap yang serupa dengan keadaan yang dirasakan oleh rekan tuli dalam keseharian mereka.

“Penonton pun diajak dan digiring untuk turut merasakan bagaimana seorang rekan tuli menampilkan sebuah pertunjukan tari. Tubuh dan gerak dengan segala bentuk tafsir atas visual dihadirkan sebagai media komunikasi oleh rekan-rekan disabilitas,” sebut Budiasa.

Ditampilkan juga tarian Joged Bumbung oleh penari tuli dengan iringan gamelan yang dibawakan oleh penabuh tuna netra.

“Ini merupakan sebuah upaya eksperimen tari dengan fokus utama adalah bagaimana interaksi yang terbangun pada fase ibing-ibingan antara penari yang merupakan seorang rekan tuli dengan pengibing non-disabilitas,” pungkas Bendesa.

Di samping pertunjukan, digelar pula fragmen proses dialog antar rekan tuli, juga tayangan dokumenter tentang Sanggar Tari Sekar Dewata.

“Menampilkan proses pelatihan dan pendampingan yang dilakukan bersama rekan-rekan disabilitas. Ini upaya menjadikan seni sebagai media edukasi untuk mengasah keterampilan, selain membangun kepercayaan diri mereka dalam berkomunikasi dengan masyarakat luas,” ujar Bendesa. (Wij/Rls)