Lomba Baca Puisi Virtual, Pengemudi Online Ikut Serta

Moch Satrio Welang, penggagas Lomba Baca Puisi Teater Sastra Welang Bali Se-Indonesia 2022. (Foto: Dok. Pribadi)
Moch Satrio Welang, penggagas Lomba Baca Puisi Teater Sastra Welang Bali Se-Indonesia 2022. (Foto: Dok. Pribadi)

GemaBali.id (Denpasar) - Penyair dan aktor teater asal Bali, Moch Satrio Welang baru saja menyelesaikan program terbarunya yakni Lomba Baca Puisi Teater Sastra Welang Bali Se-Indonesia 2022. Lebih dari 30 puisi karya Moch Satrio Welang yang ditulis dalam rentang waktu 10 tahun ini diberikan kepada tiap peserta dan mereka memilih dua puisi untuk dibacakan. 

Kegiatan virtual melalui platform YouTube tersebut diikuti lebih dari 80 peserta termasuk dari Purwokerto, Blitar, Surabaya, Mataram, Balikpapan, Jakarta, Agam (Sumatera Barat), Yogyakarta, Semarang, Lumajang, Bukittinggi, Cirebon, Pandeglang, Nganjuk, Ngawi, Lamongan, Kendal, Jember, Tasikmalaya, Jembrana, Singaraja,  Ubud, Tuban, dan daerah lainnya di Indonesia. 

Kegiatan ini selain bertujuan mempublikasikan karya-karya puisi Moch Satrio Welang, juga upaya untuk menelusup ke ruang-ruang kreatif tiap peserta.

“Selain itu, untuk merangkul kembali mereka yang lama meninggalkan dunia seni, membuka ruang lebar bagi mereka untuk berekspresi, tanpa batas dinding instansi. Dengan penggunaan ponsel sebagai media rekam, penggunaan jaringan dunia maya, proses berkesenian dapat berjalan,” jelas Satrio Welang.

Ia menambahkan, para peserta datang dari ragam geografi, usia, dan profesi. Dari mereka yang mahir membaca puisi hingga mereka yang baru saja bersentuhan dengan puisi.

“Seperti misalnya Kadek Yasa asal Ubud, seorang pegiat transportasi online, mengikuti lomba baca puisi ini. Walaupun ia sama sekali tidak pernah tampil membaca puisi sebelumnya,” katanya.

Begitu pula pelukis asal Surabaya, Anantyo Prio JP yang juga tampil polos sederhana namun mengena. Tak kalah menarik yakni peserta asal Blitar, Ayu Maula tampil manis dengan memainkan gitar menambah unsur dramatik pembacaan. Demikian pula, penampilan Ida Ayu Mahayoni asal Singaraja yang memampilkan sisi dramatik pembacaan puisi dengan penghayatan yang mendalam.

“Kreativitas peserta sungguh menarik, baik itu dalam teknik pembacaan yang beragam, proses pengambilan gambar, penyuntingan, pemilihan lokasi dan lain-lain. Sebut saja Alfina Rabi’ah Al Adawiyah peserta remaja asal Jembrana yang membacakan puisi dengan penuh keseriusan dan penghayatan.,” ujar Satrio Welang.

Peserta belia pun tampil menjanjikan penuh potensi diantaranya Sefina Minola Q.A asal Bukittinggi. Mereka berani tampil merayakan puisi bersama mereka yang kerap malang-melintang tampil membaca puisi, sebut saja Refdinal Muzam (Agam, Sumatera Barat),  Achmad Jailani (Batam), Neneng Alfiah (Cirebon), Kharisma Novia Poernomo (Mojokerto), Achmad Obe Marzuki (Denpasar), Moh Subagiyo (Yogyakarta), Stania Hibatulloh (Kediri), Rosiana Putri (Blitar), Dyah Ramadhani  (Tuban), Miftahul Hilmi (Surabaya), Bonk Ava (Denpasar) dan lain-lain.

Dewan juri diantaranya penyair Pranita Dewi, Kadek Surya Kencana dan Moch Satrio Welang mengukuhkan Juara I baca puisi yakni Beby Sastradirja, peserta asal Tangerang yang membawakan puisi berjudul ‘Tahanan’ dan ‘Jatuhnya Sepotong Bulan’. 

Beby tampil memukau, dengan kemahirannya dalam penggunaan semua instrumen rasa yang dimilikinya. Disusul oleh Galih R asal Tasikmalaya yang merebut Piala Juara II dengan membacakan ‘Surat Kematian Seniman’ dan puisi ‘Biar Aku’.

Galih membaca puisi secara sederhana namun dengan daya pukau yang kuat. Ia memainkan setiap kalimat dengan tandas dan tuntas.

Sementara juara III diraih oleh peserta asal Balikpapan, yakni Adib Faydhurahman yang membacakan puisi berjudul ‘Tahanan’ dan ‘Pusaran’ dengan penghayatan dalam dan kontrol yang terjaga.  Adapun kategori Juara Favorit I diraih oleh Amanda Beta Ardelia Putri (Denpasar), disusul Juara Favorit II oleh Moh David Bahtiar asal Nganjuk. Kategori ini ditentukan oleh penghitungan terbanyak jumlah ‘like’ oleh publik di platform YouTube.

Penyair Pranita Dewi selaku Ketua Dewan Juri menyampaikan kegembiraan atas antusiasme para peserta dalam perlombaan baca puisi virtual ini.

“Artinya puisi masih diminati. Dengan beragam kreativitas yang ditampilkan, keutuhan pembacaan puisi menjadi yang utama dalam penilaian. Bagaimana peserta menginterprestasi puisi, membedahnya, kemudian tampil membacakannya,” pungkas Pranita.

Hal senada diungkapkan Kadek Surya Kencana, juri lainya, yang melihat sastra sebagai jalan sunyi, kini semakin bertumbuh di masyarakat melalui beragam sarana, media, baik itu panggung, buku-buku, dan ruang-ruang kreatif lainnya.

“Kami berupaya menggelorakan semangat berkesenian lewat bahasa, lewat kata, lewat puisi. Puisi menuntun kita menuju kemurnian dan mendorong kita untuk terus bertarung menjadi pribadi yang lebih baik. Lomba ini bukan tujuan, melainkan sebagai kendaraan saja, bagaimana peristiwa kesenian, perayaan puisi dapat terjadi,“ tandas Moch Satrio Welang sebagai penggagas program.

Ia pun tak berhenti sampai di sini. Usai lomba baca puisi tingkat nasional ini, ia meluncurkan program berikutnya yakni Lomba Pembacaan Dramatik Naskah Monolog terbarunya yang berjudul NINI.

“Kegiatan yang juga dalam bentuk virtual ini memberi ruang kreatif pembacaan dramatik atas naskah monolog karya saya,” tukas Satrio Welang. (Wij)