Ajang R20 Di Bali Menambah Keistimewaan G20

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)

GemaBali.id (Denpasar) - KTT ke-17 dalam rangkaian Presidensi G20 Indonesia sejak 1 Desember 2021 hingga puncaknya pada 15-16 November 2022 (KTT G20) itu bernilai strategis, karena G20 merupakan forum kerja sama multilateral yang merepresentasikan lebih dari 60 persen populasi Bumi, 75 persen perdagangan global, dan 80 persen PDB dunia.

Forum G20 yang pertemuan puncaknya (KTT G20) berlangsung di Bali itu berbeda dari sebelumnya, karena adanya "nilai lebih" dengan adanya pra-event berupa Forum Religion Twenty (R20) pada 2-3 November 2022 di Bali. Ajang R20 bisa menambah keistimewaan G20 dengan hadirnya nilai-nilai religius/agama untuk mengatasi problem dunia internasional.

Selain izin dari Presiden Joko Widodo yang sudah diterima Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) selaku penggagas R20, hajat itu mendapat dukungan dari Rabithah ‘Alam Islami (Liga Muslim Dunia/Muslim World League/MWL) sebagai perwakilan Islam di tingkat dunia.

Bahkan, Syeikh Abdurachman Al Khayyat dari Liga Muslim Dunia saat menghadiri introductory meeting Forum R20 di Jakarta (5/9/2022), menyatakan organisasi yang berbasis di Arab Saudi itu siap bertindak sebagai co-chair pada pertemuan tersebut.

Syeikh Al Khayat menyampaikan ucapan terima kasih atas inisiasi Nahdlatul Ulama dengan rencana pertemuan pemimpin agama dunia di Bali. "Saya sangat senang, terima kasih banyak untuk Nahdlatul Ulama yang telah bersedia untuk mengorganisasi agenda ini untuk semua orang. Semoga forum ini dihadiri representasi pemuka agama dunia dan berjalan dengan baik dan lancar," katanya.

Selaku perwakilan co-chair dalam R20, Syeikh Al Khayyat juga menilai kerja sama antara Liga Muslim Dunia dan PBNU dalam gelaran R20 yang bertema "Revealing and Nurturing Religion as a Source of Global Solutions: A Global Movement for Shared Moral and Spiritual Values" itu, sebagai kolaborasi strategis.

Kolaborasi strategis yang dimaksud oleh Liga Muslim Dunia itu tidak jauh dari harapan Gus Yahya yang juga pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, bahwa R20 digagas untuk menegaskan bahwa agama juga memiliki peranan penting sebagai solusi atas berbagai macam problem dunia.

R20 bukan sekadar agenda tahunan, tapi Gerakan Global. "Visi dari agenda ini yang ingin kami bawa lebih jauh adalah bukan sekedar event atau konferensi, tetapi kami mengembangkan gagasan ini menjadi sebuah gerakan global," kata Gus Yahya saat Konferensi Pers sehari menjelang R20 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Provinsi Bali (1/11/2022).

Ya, gagasan mengumpulkan para pemimpin agama dunia untuk menyikapi realitas problem relasi komunal antarkelompok agama yang berbeda dan menjadi situasi problematis di dunia, sekaligus mengembangkan visi tentang agama yang dapat menjadi sumber solusi atas berbagai permasalahan global.

Solusi Identitas

PBNU membawa ide tersebut ke pemerintah, dan mengusulkan gagasan tersebut untuk diadopsi ke dalam forum tahunan G20 dari tahun ke tahun. Untuk tujuan itu, PBNU pun bekerja sama dengan Liga Muslim Dunia (MWL) bergerak bersama menghadirkan kembali peran agama pada diplomasi dunia.

Gayung bersambut, Sekjen Liga Muslim Dunia Syekh Mohammed Al-Issa menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada NU. "Dari Bali-lah, akan ada aksi nyata mewujudkan perdamaian antarpemeluk agama," katanya.

Setidaknya, Forum R20 menegaskan bahwa Agama bukanlah faktor pinggiran yang hanya menjadi legitimasi bagi program-program pembangunan. Agama bukan sekadar stempel, tetapi bagaimana agama, nilai-nilai keadilan, kemanusiaan bisa berperan ataupun memengaruhi kebijakan politik, dan ekonomi.

Oleh karena itu, Forum R20 akan mendiskusikan empat topik terkait peran agama dalam pembangunan, yakni 'Historical Grievances (Kepedihan Sejarah), Pengungkapan Kebenaran, Rekonsiliasi, dan Pengampunan'. Topik kedua, "Mengidentifikasi dan Merangkul Nilai-Nilai Mulia yang Bersumber dari Agama dan Peradaban Besar Dunia".

Topik ketiga, "Rekontekstualisasi Ajaran Agama yang Usang dan Bermasalah, Mengidentifikasi Nilai-Nilai yang Dibutuhkan untuk Mengembangkan dan Menjamin Koeksistensi Damai". Topik keempat adalah "Ekologi Spiritual".

Hasil pembahasan keempat topik akan dirumuskan dalam komunike atau pernyataan resmi bersama para pemimpin agama, sebagai kesimpulan dari semua diskusi itu. Intinya, komunike bersama R20 itu menjadikan agama sebagai solusi masalah global dan berhenti menjadi bagian dari masalah global. Atau, agama menjadi solusi identitas, bukan politik identitas.

Tentu, empat topik R20 itu juga tidak jauh dari tiga topik utama KTT G20, yakni digitalisasi/ekonomi, energi terbarukan, dan kesehatan global, yang dalam rumusan Indonesia adalah perlunya gotong royong dari dunia untuk masalah digitalisasi/ekonomi, energi terbarukan, dan kesehatan global.

Forum R20 justru akan melengkapi solusi problem global dalam digitalisasi/ekonomi, energi terbarukan, dan kesehatan global yang dibahas dalam G20, dengan "sentuhan" nilai-nilai agama/religius, karena R20 memadukan hubungan antarmanusia, antarnegara, dan antaragama yang perlu dipahami dalam keseimbangan Tri Hita Karana (Hindu) dan Hablumminallah-Hablumminannas (Islam). Apalagi, Presidensi G20 nantinya akan beralih dari Indonesia ke Indonesia pada tahun berikutnya.

Di Bali sendiri, hubungan antaragama juga relatif cair, karena ajaran Hindu tentang Tri Hita Karana, selain mengajarkan hubungan ketuhanan, juga mengajarkan hubungan kemanusiaan antarumat beragama dan hubungan sosial antartokoh, yang sangat sinergis. Agama bukan sekadar politik identitas, tapi agama menjadi solusi identitas.(ant/ri)