Kemacetan dan Realita Tempat Ketiga

Kendaraan di depan saya melaju pelan, lebih sering berhenti daripada bergerak. Sesekali terdengar suara klakson diantara kepadatan lalu lintas pagi hari. Kami terjebak di kepadatan lalu lintas sementara jam di pergelangan tangan terus merangkak. jarumnya berdetak halus bergerak memutar melangkahi angka demi angka. Ada kegelisahan, kekhawatiran terlambat sampai di sekolah anak-anak. Jika tidak segera sampai, bisa-bisa mereka dimarahi oleh guru.

Kemacetan kini menjadi keseharian yang sulit dihindari. Konon ia menjadi barometer ekonomi yang berjalan. “Macet artinya aktivitas ekonomi kita lancar,” kata seorang kawan di kampus. “Lebih baik macet tetapi kantong berisi daripada lalu-lintas lancar tetapi kantong kosong,” ucap teman yang lain. Tetapi, apakah semakin macet berarti kita akan semakin kaya? Ah,tidak juga, dan tidak mungkin begitu. Itu mungkin hanyalah pembenaran di balik ketidakberdayaan kita mengendalikan meningkatnya jumlah kendaraan dengan infrastruktur yang nyaris tidak mungkin bisa ditambah lagi. Jadilah jalanan perkotaan yang dipenuhi kendaraan.

Kota-kota menyedot ribuan bahkan ratusan ribu atau jutaan orang untuk datang. Kota menjanjikan banyak hal baik; pekerjaan yang layak, pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang baik, hiburan yang beranekaragam dan seterusnya. Ia mendekatkan manusia dengan kebutuhan hidup modern tadi. Janji-janji kehidupan yang lebih baik itu menjadi magnet bagi penduduk untuk berduyun-duyun pindah ke kota.

Hari ini, menurut catatan Bank Dunia, sudah lebih dari setengah dari total 8 miliar penduduk dunia tinggal di wilayah perkotaan. Padahal luas permukaan kota hanya 2 persen dari keseluruhan permukaan bumi. Jika kita menggunakan proporsi itu untuk Bali, maka lebih dari 2 juta orang sudah tidak lagi menghuni kawasan pedesaan.

Mereka tinggal di tempat-tempat yang menjanjikan pendapatan yang lebih baik dibandingkan di desa. Alhasil, penduduk di wilayah padat tersebut berebut menggunakan fasilitas-fasilitas publik seperti jalan, jembatan dan juga mungkin berebut air bersih.

Di Jakarta, konon penduduk yang menggunakan kendaraan roda empat menghabiskan tidak kurang dari dua jam untuk berangkat dari rumah tinggal ke tempat kerja. Jika ditambahkan dengan waktu pulang dengan durasi yang sama, maka seperenam waktu sehari sudah habis di jalan. Bagaimana di Bali? kemacetan mungkin tidak separah di Jakarta, tetapi di banyak tempat: Ubud, Seminyak, Legian, Kuta mungkin sudah semakin mendekati kondisi yang terjadi di Jakarta.

Untunglah perancang mobil sekarang sudah semakin cepat tanggap. Sarana hiburan sudah sejak lama menjadi fasilitas standar. Sembari menikmati macet, kita bisa mendengarkan lagu, kini bahkan, berkat kemajuan teknologi, bisa menonton video atau berselancar di dunia maya. Kadang, manusia baru benar-benar memiliki waktu untuk menikmati musik favouritnya saat berada di balik kemudi.

Di rumah, urusan keluarga sudah menyita waktu. Jangan tanya di kantor yang dipenuhi dengan rapat. Kemacetan mungkin memberi waktu lebih bagi kaum wanita untuk mematut diri di cermin tanpa dikejar-kejar oleh suami yang ingin segera berangkat. Anak-anak bisa main game yang ada di telepon genggam tanpa takut akan dimarah guru atau dihardik orang tua.

Kemajuan internet membuat waktu di mobil bisa jadi efektif. Dengan bantuan aplikasi kita bisa melaksanakan rapat, membagi tugas dan pekerjaan, menyelesaikan catatan-catatan rapat dan banyak hal lainnya termasuk bersosialisasi. Ada banyak situs pertemanan yang sekarang mengambil alih ruang-ruang nyata kita dan memindahkannya ke ruang-ruang imajiner. di ruang-ruang inilah kini kita menghabiskan banyak waktu. 

Teknologi dan kemacetan lalu lintas menciptakan ruang, waktu dan aktivitas bagi terciptanya “tempat ketiga.” Ini adalah tempat diantara rumah sebagai “tempat pertama” dan tempat kerja sebagai “tempat kedua”. Keduanya memiliki fungsi yang cukup jelas dan hampir rigid, kaku, namun saling bertolak belakang. Dualitas rumah dan kantor sering menimbulkan ketegangan antara kepentingan keluarga dan kepentingan pekerjaan.

Tempat ketiga, kata Jeffres et al. (2009), “menawarkan penghilang stres dari tuntutan sehari-hari baik di rumah maupun di tempat kerja.” Kota-kota yang kian penuh sesak membutuhkan tempat-tempat semacam ini dimana penduduknya dapat berpartisipasi secara inklusif dan bebas nilai.

Pada masa sebelum terjadinya ledakan internet, tempat ketiga berupa tempat-tempat umum seperti warung kopi, lapangan, taman kota, ruangan yang tercipta di bawah naungan pohon beringin dan tempat-tempat fisik lain. Di tempat-tempat semacam itu, interaksi sosial terjadi sangat cair terbebas dari hirarki kedudukan kita di keluarga, tempat kerja atau hirarki di masyarakat.

Di tempat ketiga semua orang memiliki kedudukan yang setara karena tempat-tempat tersebut bersifat netral. Tidak ada aturan jam, kewajiban untuk hadir, ataupun tuntutan untuk menyelesaikan sesuatu. Siapa saja boleh hadir atau tidak hadir. Bisa datang dan pergi sesuka hati. Tempat ketiga baik bagi demokrasi karena ia mampu mendekatkan ikatan social di masyarakat yang terdiri atas penduduk yang plural.

Kedudukannya sebagai neutral ground menjadikan tempat ketiga sebagai tempat bertemunya berbagai budaya. Tidak terikat pada satu tetapi justru menciptakan budaya gabungan dari berbagai bentuk adat dan kebiasaan yang tidak serupa.

Pemikir postmodern, Homi K. Bhabha menyebutnya sebagai tempat terjadinya hibridasi budaya. Arsitek sekaligus pemikir budaya asal Jepang, Kisho Kurokawa, merumuskan konsep metabolis bagi tempat-tempat semacam itu. Di sana terjadi symbiosis dimana tidak ada dominasi satu kelompok atas kelompok lain.

Di era media sosial, tempat ketiga berpindah ke ruang-ruang virtual. Di sanalah sekarang kita menghabiskan waktu selain di rumah dan di kantor. Interaksi social terjadi tanpa adanya kontak fisik. Lokasi dan ruang fisik absen dalam konsepsi ini. Dengan jempol, kita terhubung dengan tempat-tempat di berbagai belahan dunia, berinteraksi dengan manusia yang menghuni belahan bumi yang berbeda.

Skala tempat ketiga menjadi sangat besar, nyaris tak terbatas. Bandingkan dengan jaman dulu saat kita mencukur rambut di tukang cukur bawah pohon beringin. Luas ruangannya adalah sebatas bayangan yang dibentuk oleh tajuk rimbun pohon raksasa tersebut.

Tempat ketiga kita hari ini tidak terikat pada posisi geografis, lokasi, ataupun kelompok masyarakat tertentu. Ia tak terbatas. Meski tempat ketiga semakin luas, tetapi secara fisik kita terjebak. Terjebak di dalam box bermesin berbentuk mobil yang bergerak kian kemari tanpa jangkar yang pasti.

Selain tempat, konsep waktu juga semakin mengabur. Sekali waktu, dalam kondisi ini, kita merindukan tempat nyata, bukan yang virtual. Merindukan percakapan intim dengan bertatap muka dengan wajah-wajah yang familiar. Sayangnya semua semakin jauh. 

Hari ini kota kita terus membesar. Tempat ketiga kita semakin luas tak terbatas. Tetapi sebaliknya ruang fisik kita menyempit. Setiap pagi dan sore kita menyaksikan orang-orang menghadapi ruang maha luas di dalam kotak kendaraan pribadinya. Jumlahnya jutaan, mungkin milyaran di seluruh dunia. Semakin bertambah kemacetan, mungkin akan semakin menjauhkan kita dari tempat fisik dan kota tempat tinggal kita bersama warga lainnya.  ***