Makhluk Desain dan Evolusi Manusia Bali

Siang terik. Sinar matahari jatuh tepat di atas kepala tanpa melalui saringan awan yang biasanya cukup tebal di awal musim penghujan seperti saat ini. Bayangan-bayangan pepohonan yang kian jarang tidak mampu menangkal panas yang juga dipantulkan oleh perkeras paving block yang memenuhi sebagian areal di bawah telapak kaki. Pantai Matahari Terbit, Sanur, Denpasar dipenuhi oleh pengunjung. Untunglah masih tersisa slot parkir kosong sehingga saya bisa masuk dan memarkirkan kendaraan.

Turun dari kendaraan, berjalan kaki beberapa langkah, nampak bangunan yang megah. Hiasan Gajah Mina, binatang berkepala gajah tetapi berbadan ikan, mendominasi bentuk keseluruhan. Atapnya menyerupai layar yang belum sepenuhnya terkembang. Kantih-kantih disimbolkan dalam bentuk kanopi yang menaungi gerbang utama untuk memasuki bangunan.

Meski tampak megah dan berukuran besar, arsitektur bangunan ini tidaklah menganggu visual karena mengambil idiom yang sudah jamak dijumpai di sana yaitu perahu tradisional. Setidaknya tidak terjadi penolakan seperti saat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai direnovasi, dulu.

Menurut rencana, lahan-lahan di sekitar Pelabuhan akan ditata menjadi sebuah kawasan bisnis terintegrasi, dilengkapi dengan terminal transportasi darat, akomodasi wisata, ruang terbuka, hingga hiburan. Ini bukan pekerjaan kecil tetapi sebuah rencana besar.

Rencana ini nampaknya sejalan dengan keputusan pemerintah yang telah menetapkan Sanur sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Kesehatan yang disandingkan dengan aktivitas kepariwisataan. Guna mendukung fungsi tersebut, infrastruktur perlu disiapkan dan dengan status tersebut, berbagai insentif dan kemudahan berusaha dirancang akan diberikan oleh pemerintah kepada investor. Tujuannya, seperti dimuat pada website, meningkatkan daya saing Indonesia di pasar dunia.

Menurut klaim kajian pemerintah, triliunan rupiah dibawa ke luar negeri oleh orang-orang superkaya Indonesia yang memilih berobat ke beberapa negara dengan fasilitas kesehatan memadai. Pengeluaran tersebut hendak di rem dengan menyediakan fasilitas Kesehatan kelas internasional di Bali, dan Sanur didesain sebagai lokasinya.

Dari arah Pantai Matahari Terbit melihat di kejauhan ke arah Timur Laut, Gunung Agung nampak disaput awan tipis. Nyaris enam dekade lampau, gunung tersebut menyemburkan awan panas, memuntahkan laharnya dan mengeluarkan berbagai material dari perut bumi. Gunung tertinggi di Bali tersebut juga disucikan oleh umat Hindu Bali salah satunya karena memiliki banyak sumber air di seputaran lerengnya. Beberapa mata air tersebut mengalir membentuk sungai Telaga Waja.

Di muara sungai Telaga Waja, sebuah proyek besar lain sedang dibangun, Pusat Kebudayaan Bali. Ini akan menjadi sentra pelestarian, pengembangan serta pertunjukan dan pameran hasil-hasil kesenian dan kebudayaan masyarakat Bali. Di bagian yang menghadap laut akan dibangun sebuah marina, pelabuhan untuk bersandarnya perahu-perahu, yang kemungkinan adalah perahu mewah.

Mengalihkan pandangan ke arah tenggara, Pulau Nusa Penida terlihat seperti sebuah gundukan berwarna biru gelap. Berbeda dengan Kawasan lain di Bali, obyek-obyek wisata alam di gugusan pulau ini baru mendapat perhatian dalam beberapa waktu belakangan. Pembangunan kepariwisataan dilakukan melalui desain kebijakan oleh pemerintah daerah yang segera mendapat sambutan pihak masyarakat dan investor.

Meski relatif baru, berkat promosi Instagram yang masif, ia menjelma menjadi salah satu daya tarik wisata utama. Ribuan pengunjung berkunjung setiap bulan, menapaki setiap jengkal jalan yang dahulunya setapak namun kini sudah berganti aspal mulus, menikmati eksotika pulau atol dengan air laut biru jernih. Fasilitas-penunjang wisata didesain, dibangun dan beroperasi bak cendawan di musim hujan.

Sebuah pelabuhan yang lebih representatif tengah dibangun. Dermaga-dermaga baru segera menggantikan yang tradisional untuk menyambung lebih banyak lagi pengunjung. Seorang kawan kelahiran pulau itu berseloroh pulaunya seperti Ksatria Baja Hitam, berubah dalam sekejap.

Jika kita perhatikan dengan seksama, maka Kawasan Sanur dan Pantai Matahari Terbit, Kompleks Pusat Kebudayaan Bali dan Pulau Nusa Penida merupakan sebuah Kawasan Marina yang sangat besar jika pembangunan di ketiga tempat tersebut rampung. Setidaknya akan ada tiga marina yang siap menampung kapal-kapal wisata, mengantarkan tetamu menikmati pantai-pantai tenggara Bali. Sepertinya semuanya telah didesain dengan baik tidak hanya di tingkat provinsi tetapi nasional, bahkan mungkin internasional.

Desain-desain pengembangan kawasan dan juga arsitektur sejak awal abad ke-20 tidak bisa dilepaskan dari politik dan kapital. Pengembangan Bali sebagai daerah tujuan wisata internasional di akhir tahun 1960 an hingga awal tahun 1970 an pun tidak terlepas dari tangan-tangan investor internasional yang diamini oleh pemerintah pusat.

Dengan potensi keuntungan ekonomi besar, pemerintah membuat sebuah rencana besar yang disebut Bali Tourism Masterplan. Sejak itu, manusia Bali mengalami evolusi dari makhluk agraris menjadi makhluk jasa. Pola serupa nampaknya terus berulang hingga kini. Arus kapital yang liar dalam era neoliberal sulit dikontrol bahkan oleh pemerintah sekalipun.

Douglas Spencer memandang neoliberalisme sebagai proyek yang betujuan untuk membentuk kembali manusia dan dunianya menurut rasionalitas ekonomi murni. Dalam masyarakat di mana logika pasar berkuasa tanpa tandingan yang berarti, manusia membentuk hidupnya sebagai usaha kewirausahaan.

Logika-logika ekonomi oportunistik yang terus bergerak dalam jejaring global ini melandasi banyak aktivitas pembangunan di seluruh dunia termasuk Indonesia. Di dalam pusaran tersebut, desain-desain dibuat untuk mengantisipasi dan melayani kebutuhan pasar.

Perubahan-perubahan dalam skala besar dengan kecepatan yang tinggi membuat kita khawatir. Kekhawatiran muncul akibat konsekuensi yang mungkin timbul belum sepenuhnya kita antisipasi. Apalagi keputusan-keputusan yang melatari pembangunan tersebut didesain dan diputuskan oleh kekuasaan politik dan investasi yang berada di luar jangkauan aspirasi kita. 

Penolakan-penolakan bukannya tidak terjadi. Bali memiliki banyak pengalaman dengan hal ini mulai dari cara yang lemah lembut melalui seminar-seminar di kampus saat rezim represif berkuasa hingga cara jalanan melalui gelombang demonstrasi massa di era keterbukaan publik.

Proposal-proposal yang mengantisipasi serta melayani pasar tersebut dibuat, tentu saja, oleh manusia. Kini kita tidak bisa lepas dari desain. Semua yang ada di sekitar kita adalah produk desain, demikian kata pasangan teoritikus dan sejarawan arsitektur Beatriz Colomina dan Mark Wigley.

Desain-desain tersebut membentuk lapisan-lapisan. Sebagian desain merupakan warisan dari pendahulu dari jaman yang jauh di atas kita, ada pula desain yang dikerjakan oleh generasi yang dekat di atas kita dan ada pula yang dirumuskan oleh generasi kita. Desain-desain tersebut akan bergerak ke masa depan. Sebagian akan digantikan oleh desain baru, sebagian mungkin diteruskan dan akan ada banyak lagi desain baru yang dibuat di masa depan. Ini adalah tiket sekali jalan, tidak ada peluang berbalik.

Desain-desain yang kita buat mungkin membuat hidup kita lebih baik. Tetapi bisa jadi ada desain yang akan menghancurkan hidup kita. Membawa kita kepada kepunahan. Untungnya manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan adaptasi paling baik dibandingkan dengan makhluk lain. Sejak jaman monyet berdiri tegak, manusia mengalami evolusi.

Awalnya manusia membuat desain untuk menyesuaikan diri dengan alam. Sekarang manusia harus menyesuaikan diri dengan desain dibuatnya sendiri. We shape our building; thereafter they shape us, demikian kata Sir Winston Churchill.  Desain dan evolusi bekerja secara resiprokal selalu menyertai kehidupan manusia.

Jika desain proyek-proyek besar yang kini dikerjakan di seluruh wilayah telah selesai, evolusi seperti apa yang akan dialami oleh manusia yang mendiami Pulau Bali? Menilik pendapat Spencer, evolusi akan terjadi dibidang non-ekonomi: sosial, budaya, dan keseharian yang merupakan produk desain generasi pra-turisme. Produk desain tersebut akan ‘dipaksa’ mengikuti logika finansial.

Ah, tanpa sadar saya telah menghabiskan satu porsi lumpia.