Tantangan Anak Muda Belajar Jurnalisme

Kegiatan pelantikan anggota Smansaku Journalist tahun angkatan 2022/2023, Minggu (20/11). (Foto: Dok. Smansaku Journalist)
Kegiatan pelantikan anggota Smansaku Journalist tahun angkatan 2022/2023, Minggu (20/11). (Foto: Dok. Smansaku Journalist)

Oleh Angga Wijaya*

Membina ekstrakurikuler jurnalistik di SMAN 1 Kuta, Badung, Bali, empat tahun belakangan, banyak pengalaman yang saya dapatkan. Saya sadar, generasi muda kini jauh berbeda dengan generasi saya yang lahir pada 1980-an.

Anak-anak didik saya akrab dan dibesarkan teknologi. Jika dulu siswa mengandalkan buku sebagai sumber informasi, generasi sekarang mengandalkan internet. Browsing di Google, dalam hitungan detik apa yang dicari tersedia. Tak perlu susah-susah membongkar buku di perpustakan sekolah atau melihat-lihat buku di toko buku.

Guru atau pembina ekstrakurikuler kini sebagai fasilitator, bukan sumber informasi utama, seperti dahulu. Murid pada masa sekarang bukan lagi ‘kertas kosong’ yang mesti diisi. Tak jarang, mereka terlihat lebih cerdas daripada para guru. Maka itu, setiap mengisi kelas jurnalistik, saya lebih banyak mengadakan diskusi; pembeda antara saya dan siswa hanyalah soal ‘jam terbang’ dan profesi.

Sebagai jurnalis, setiap hari saya menulis berita, sedangkan mereka tidak. Jurnalisme belum dipakai sebagai profesi, karena mereka masih siswa. Hanya itu yang membedakan. Selebihnya, soal pengetahuan, bisa jadi mereka lebih tahu ketimbang saya. Alhasil, saya lebih banyak berbagi pengalaman sebagai jurnalis. Tidak memposisikan diri sebagai penyedia informasi utama, alih-alih ‘penguasa kelas’ yang mendominasi kegiatan belajar-mengajar.

Minggu, 20 November 2022 kemarin, Smansaku Journalist, sebutan lain ekstrakurikuler jurnalistik SMAN 1 Kuta mengadakan acara pelantikan anggota baru. Ada 30 siswa tahun ini yang bergabung. Tidak terlalu banyak jika dibandingkan ekstrakurikuler lain. Setiap tahun siswa baru yang bergabung pada Smansaku Journalist berkisar 30 hingga 40 orang.

Komang Wisnu Putra, Ketua Smansaku Journalist mengatakan, minat siswa SMAN 1 Kuta untuk belajar jurnalisme bisa dibilang masih kurang. Para siswa masih menganggap ekstrakurikuler jurnalistik tempat belajar fotografi semata.

“Padahal, ekstrakurikuler jurnalistik tidak seperti itu. Di sini kita belajar jurnalisme secara umum, cara menulis berita, teknik wawancara, editing berita, hingga content writing untuk website dan media sosial,” jelasnya.

Kurangnya minat anak muda belajar jurnalisme, kata dia, tentu menjadi tantangan bagi Smansaku Journalist. Bagaimana di masa mendatang, siswa-siswi penerus mensosialisasikan ekstrakurikuler jurnalistik saat penerimaan siswa baru di SMAN 1 Kuta.

“Untuk itulah, sejak beberapa tahun lalu pada ekstrakurikuler jurnalistik ada pembagian divisi yakni divisi editing, divisi redaksi, dan divisi fotografi untuk memfokuskan minat dan bakat anggota. Pembagian divisi ini terbukti mampu meningkatkan kompetensi mereka,” kata Wisnu.

Perempuan dan jurnalisme

Satu hal yang saya perhatikan sejak dulu adalah persentasi siswi yang lebih banyak daripada siswa. Meski belum pernah mengadakan riset, agaknya pada masa sekarang hal-hal yang berkaitan dengan tulis-menulis dan literasi pada umumnya lebih digandrungi perempuan ketimbang laki-laki. Bisa jadi, sifat alami perempuan yang lebih tekun membuat mereka merasa cocok belajar jurnalisme dan bergabung pada ekstrakurikuler jurnalistik.

Meski belum tentu mereka akan menjadi jurnalis atau memilih program studi ilmu sastra dan budaya saat tamat dari sekolah dan melanjutkan studi ke universitas, setidaknya bekal jurnalisme akan banyak membantu mereka saat misalnya menulis dan membuat tugas kuliah bahkan skripsi. Bekal menulis tentu sangat berguna saat mereka menjadi mahasiswa nanti.

Tantangan belajar jurnalisme pada generasi sekarang amat besar. Digitalisasi salah satunya, membuat kreativitas anak muda lebih banyak pada bidang visual, misalnya membuat video dan menjadi YouTuber, ketimbang misalnya menulis rutin pada blog atau mengirim tulisan ke media massa; semisal puisi, cerita pendek, atau juga esai. Fenomena ini tentu menjadi menarik, bagaimana membuat siswa tertarik belajar jurnalisme.

Sebagai pembina jurnalistik, saya tentu tidak bisa berharap banyak pada siswa untuk menulis berita secara ideal layaknya seorang jurnalis. Bukan hal aneh jika di kelas kami belajar menulis caption, karena hal itu lebih dekat dengan kehidupan siswa yang aktif membuat konten pada media sosial. Menjadi fleksibel adalah jalan tengah bagi saya. Dari para siswa saya juga mendapat hal-hal baru. Proses belajar-mengajar pun menjadi wadah untuk saling bertukar ilmu juga pengalaman antara saya dan para anggota Smansaku Journalist yang telah banyak menorehkan prestasi.

*) Penulis adalah jurnalis Gemabali.id, telah menulis sembilan buku sejak 2018