Program Kolaborasi Vaksinasi COVID-19 Sasar Puluhan Difabel Bali

Salah seorang difabel netra yang mengikuti kegiatan vaksinasi di Yayasan Bali Bersama Bisa, Jumat (17/2)
Salah seorang difabel netra yang mengikuti kegiatan vaksinasi di Yayasan Bali Bersama Bisa, Jumat (17/2)

GemaBali (Badung) – Pemuda itu tampak tenang saat jarum suntik menyentuh lengan kirinya. Tidak sampai dua menit, vaksinasi selesai dan ia kembali berkumpul dengan teman-temannya.

Gus Manuaba namanya. Ia difabel netra yang tergabung dalam Teratai Foundation, komunitas penyandang disabilitas netra yang berlokasi di Denpasar Selatan. Ia berangkat ke Yayasan Bali Bersama Bisa di Dalung, Badung, Bali, Jumat (17/2) menggunakan jasa ojek online.

Bersama puluhan difabel lain, Gus Manuaba mengikuti vaksinasi COVID-19, Program ini adalah pemberian vaksin kepada kelompok rentan seperti penyandang disabilitas dan lansia serta masyarakat umum dengan melibatkan beberapa komunitas dan organisasi seperti Yayasan Bali Bersama Bisa, Yayasan Save The Children, IDEP Foundation, AIHSP atau kemitraan Australia dan Indonesia untuk percepatan vaksinasi COVID-19 bagi masyarakat Bali. Dibantu juga oleh dokter dan tenaga medis dari Puskesmas Kuta Utara, Badung.

Vita Nandika, Provincial Coordinator Program VACINE & TRACE AIHSP bersama Yayasan Save The Children dan IDEP Foundation menjelaskan, terdapat 150 orang pendaftar termasuk lansia selain penyandang disabilitas dan pendamping serta keluarga mereka.

“Kesadaran masyarakat mengikuti vaksinasi kali ini sangat tinggi. Ke depan kami berharap bisa berkolaborasi dengan lebih banyak komunitas dan organisasi,” ujarnya.

Herdi Mery, staf Yayasan Bali Bersama Bisa mengatakan, kegiatan vaksinasi hari ini diikuti oleh para penyintas bipolar, skizofrenia, difabel netra dan difabel fisik.

“Jadi ini bersifat kolaboratif. Kami lakukan di sekretariat Yayasan Bali Bersama Bisa karena kami ingin menyebarluaskan kesadaran pentingnya isu kesehatan mental bagi masyarakat luas,” sebutnya.

Tercatat 57 difabel mengikuti kegiatan vaksinasi COVID-19, baik vaksin tahap I, tahap II, Booster I dan Booster II. Ada juga para ibu penyintas kanker yang tergabung dalam Love Strong Woman.

“Harapan kami, Yayasan Bali Bersama Bisa lebih bisa dikenal sebagai tempat bagi mereka yang mengalami gangguan cemas, depresi, dan keluhan psikologis misanya merasa takut atau bahkan ada keinginan bunuh diri,” imbuh Mery.

Berdiri sejak 2020, Yayasan Bali Bersama Bisa selain rutin mengadakan program edukasi kesehatan mental juga memiliki saluran hotline pencegahan bunuh diri, disebut L.I.S.A. Helpline yang telah banyak membantu terutama warga yang mengalami krisis mental. Tak hanya di Bali, namun juga dari beberapa provinsi dan kota di Indonesia.

“Untuk saat ini layanan itu kami hentikan sejenak, sambil menyediakan infrastruktur yang lebih baik termasuk tenaga konselor, call center, perawat, juga psikolog dan psikiater. Semoga pada Maret 2023 layanan tersebut kami bisa buka kembali,” jelas Mery. (Wij)