Pertemuan Asosiasi Pelabuhan ASEAN Bahas Sistem Maritim Tunggal di Bali

Arsip foto - Proses bongkar muatan kapal di Pelabuhan Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng, Bali, Jumat (4/8/2023). (Foto:gemapos/antara)
Arsip foto - Proses bongkar muatan kapal di Pelabuhan Celukan Bawang, Kabupaten Buleleng, Bali, Jumat (4/8/2023). (Foto:gemapos/antara)

GemaBali (Denpasar)Pada Selasa (14/11), Pertemuan Asosiasi Pelabuhan ASEAN (APA) ke-47 di Bali membahas sistem maritim tunggal untuk mendukung konektivitas dan penurunan biaya logistik di kawasan Asia Tenggara.

Hal tersebut disampaikan Ketua APA ke-47 Bui Van Quy di sela pertemuan operator pelabuhan ASEAN di Kuta, Kabupaten Badung, Bali, Selasa.

“Kami menargetkan untuk membangun ekosistem yakni ASEAN Maritime Single Window,” katanya. 

Kemudian, Bui Van menjelaskan sistem maritim tunggal di ASEAN itu menjadi salah satu topik pembahasan pada pertemuan 14-17 November 2023 itu untuk menurunkan biaya logistik yang dikeluarkan oleh pengguna jasa kepelabuhanan.

Ekosistem itu, kata dia, mengedepankan digitalisasi yang memberikan efisiensi sekaligus melindungi lingkungan guna mendukung penurunan emisi karbon.

“Jadi digitalisasi dan ekosistem itu berkaitan langsung. Kami bisa menghemat cara kerja, waktu, dan efisiensi yang tinggi untuk rantai pasok jadi semua akan mendapat keuntungan dari konektivitas modern dan digitalisasi,” katanya.

Meski secara umum, Bui belum memberikan detail biaya logistik rata-rata di ASEAN, namun biaya tersebut berkaitan langsung dengan budaya operasional di masing-masing pelabuhan di negara ASEAN.

“Biaya logistik bisa menurun jika membangun pelabuhan yang seluruhnya beroperasi secara otomatis dibandingkan pelabuhan konvensional yang memakan biaya tinggi,” katanya.

Sementara itu, data Indeks Performa Logistik (LPI) 2023 oleh Bank Dunia menempatkan Indonesia berada di peringkat ke-61 dengan skor total 3,0.

 Vietnam dan Filipina berada di peringkat lebih baik yakni ke-43 dengan skor sama 3,3.

Thailand berada di peringkat 34 dengan skor total 3,5, Malaysia di peringkat ke-26 dengan skor 3,6 dan Singapura berada di peringkat pertama dengan skor total 4,3.

Dibandingkan LPI 2018, Indonesia berada di peringkat ke-46 dengan skor total 3,15.

Sementara itu, Kementerian Keuangan mencatat biaya logistik Indonesia mencapai 23,5 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Angka itu lebih tinggi dibandingkan biaya logistik di negara ASEAN seperti Malaysia mencapai 13 persen dari PDB.

Sementara itu, Direktur SDM dan Umum Pelindo Ihsanuddin Usman menyebutkan pihaknya memperpendek waktu sandar (port stay) dan masa tinggal kontainer di terminal (cargo stay) dengan menyatukan sistem pelayanan dan pembayaran melalui aplikasi digital untuk efisiensi operasional.

Dengan efisiensi itu, operasional di pelabuhan bisa dilakukan lebih cepat, kemudian menurunkan biaya bahan bakar hingga biaya sewa kapal bisa ditekan.

“Jadi otomatis ketika dulu membutuhkan tiga hari misalnya di salah satu pelabuhan Pelindo, sekarang hanya membutuhkan satu hari,” katanya.(ar)