Dinas Kebudayaan Bali Konservasi 106 Cakep Lontar

Pelaksanaan Konservasi Lontar Di Puri Kilian Puri Agung Bangli, (2/2/2024) (Foto:GemaBali/NusaBali)
Pelaksanaan Konservasi Lontar Di Puri Kilian Puri Agung Bangli, (2/2/2024) (Foto:GemaBali/NusaBali)

GemaBali.ID (Bangli) - Penyuluh Bahasa Bali Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, melaksanakan konservasi, identifikasi, dan digitalisasi lontar di Puri Kilian Puri Agung Bangli, Jumat (2/2/2024). Adapun jumlah lontar yang berhasil dikonservasi sebanyak 106 cakep lontar. Lontar yang ada di Puri Kilian tersebut isinya beragam, seperti geguritan, kisah leluhur puri, memuat tentang kesulinggihan hingga tata cara sebagai saya tajen (juri sabung ayam).

Tokoh Puri Kilian Puri Agung Bangli, Anak Agung Bagus Krisna Adipta Wardana mengatakan pada generasi terdahulu pada saat hari raya saraswati lontar tersebut tidak diupacarai. Namun, lontar tersebut dibaca serta diulas isinya.

"Pada generasi sebelumnya, saat Rahina Saraswati lontar ini tidak diupacarai tetapi diambil untuk dibaca dan diulas isinya. Memang saat ini tradisi tersebut tidak dijalankan," ungkapnya, Jumat (2/2/2024).

Kini pihak puri ingin melestarikan keberadaan lontar, maka itu meminta bantuan Penyuluh Bahasa Bali untuk melakukan konservasi. Menurut Agung Krisna, ada 90 cakep lontar yang kondisi masih bagus. Namun ada pula lontar yang rusak hingga tidak terbaca.

"Kami ingin menyelamatkan lontar ini, karena ini menjadi sumber pengetahuan dan juga informasi," ujarnya.

Selanjutnya dari lontar yang telah dikonservasi, lontar memuat berbagai pengetahuan. Salah satunya terkait kesulinggihan.

"Jika ditelaah, pada masa itu seseorang yang akan menjadi Sulinggih akan belajar dan dites di sini (di puri)," sambungnya.

Sementara itu, Koordinator Penyuluh Bahasa Bali Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di Bangli, I Wayan Sudarsana mengatakan jika pihaknya sudah melakukan observasi sejak 30 Januari 2024 lalu. Kemudian dilanjutkan dengan konservasi dan identifikasi. Nantinya juga akan dilakukan digitalisasi, termasuk alih aksara dan alih bahasa.

"Untuk konservasi bisa selesai hari ini (kemarin). Namun untuk alih aksara dan alih bahasa diperlukan waktu cukup lama. Nantinya akan dipilih lontar yang akan dialih aksarakan dan alih bahasa sesuai permintaan dari Puri," jelasnya.

Beberapa isi lontar seperti geguritan kisah leluhur puri, babad, kekawin, sewalapatra atau surat untuk menghadap raja.

"Cukup banyak juga terkait Puja Ida Pedanda/Sulinggih. Diyakini sebelum seseorang melaksana proses madiksa, tempat belajarnya di sini," kata Sudarsana didampingi penyuluh lainnya.(gn)