Psikoanalisis: Psikoterapi yang Menyasar Alam Nirsadar

foto profil krisna aji
foto profil krisna aji

Perilaku manusia yang tampak kasat mata hanyalah sebagian kecil dari alam psikis manusia. Perilaku ini – berada di alam sadar – sangat dipengaruhi oleh alam nirsadar. Misalkan saja, perasaan marah yang dialami seseorang – berada di alam sadar – bisa jadi merupakan perwujudan dari perasaan sedih yang tersimpan di alam nirsadar. Atau, ketakutan seseorang untuk menikah, bisa jadi adalah perwujudan alam nirsadar akan trauma perceraian kedua orang tuanya di saat orang tersebut masih kecil.

Walau tidak tampak secara kasat mata, alam nirsadar mengambil peranan yang sangat besar dalam perilaku manusia yang tampak. Seringkali, alam nirsadar negatif akan membentuk perilaku manusia yang mencederai dirinya dan terwujud dalam rentang spektrum gangguan jiwa. Cemas, depresi, fobia, dan bahkan, skizofrenia, bisa jadi merupakan perwujudan dari alam nirsadar bernuansa negatif dan tidak terselesaikan.

Alam nirsadar tersebut terbentuk dari tumpukan pengalaman hidup seseorang dari lahir hingga saat ini. Alam psikis manusia – salah satunya adalah alam nirsadar – akan terus berevolusi bersamaan dengan bertambahnya usia dan pengalaman. Saat kondisi kekinian dari perilaku manusia bermasalah, bisa jadi, hal tersebut merupakan akibat dari alam nirsadar bernuansa negatif yang menumpuk dan tidak terselesaikan hingga saat ini. Konsep perjalanan alam psikis yang bermasalah inilah yang menjadi sasaran terapi dari psikoanalisis yang diciptakan oleh Sigmund Freud di tahun 1890.

Bagaimanakah Psikoanalisis Bekerja?

Secara sederhana, psikoanalisis bekerja dengan memperbaiki alam nirsadar yang bernuansa negatif dan memengaruhi perilaku yang tampak di masa kini. Sesuai dengan pernyataan awal yang menyebutkan bahwa alam nirsadar adalah sesuatu yang benar – benar tidak disadari oleh manusia, praktik dari psikoanalisis ternyata tidak sesederhana itu. Psikoterapis yang melakukan psikoanalisis akan mendampingi klien untuk ‘berjalan-jalan’ di area alam psikisnya dan membuat kesadaran akan alam nirsadar muncul dengan berbagai teknik. Psikoterapis yang terlatih akan membantu klien dengan melakukan identifikasi dan klarifikasi terhadap perilaku yang ditampilkan saat proses psikoterapi untuk melihat alam nirsadar yang mendasari perilaku tersebut. Cara berbicara, ide dari kalimat yang terus menerus diulang, kata per kata yang diucapkan, intonasi suara, dan bahkan, gestur tubuh saat membicarakan topik masalah yang dihadapi, merupakan kunci penting yang dinilai oleh para psikoterapis.

Baca Juga:

    Psikoterapis tidak serta-merta berkeyakinan bahwa asumsi subjektifnya merupakan kebenaran yang mutlak. Psikoterapis akan melakukan interpretasi dengan memperjelas kembali dugaan awal tersebut kepada klien. Intervensi yang dilakukan oleh psikoterapis juga tidak terlalu hiperaktif. Seringkali, psikoterapis hanya mengangguk dan berkata beberapa patah kata saat mendengarkan perkataan yang dilontarkan oleh klien. Hal tersebut dikarenakan pemeran utama dalam proses psikoterapi adalah klien itu sendiri, bukan psikoterapis.

    Hingga saat ini, telah banyak pembaruan dan pengembangan konsep psikoanalisis sejak pertama kali diciptakan. Psikoterapi yang menggunakan pendekatan dari perkembangan alam psikis tersebut, sering kali dimasukan dalam golongan besar ‘psikoterapi rekonstruktif’. Sesuai namanya, psikoterapi golongan ini bekerja dengan merekonstruksi ulang pondasi-pondasi bermasalah yang terlanjur tertanam di masa lalu.

    Walaupun banyak kasus dapat terselesaikan, tidak semua kasus dapat diselesaikan dengan pendekatan ini. Sejatinya, psikoterapis yang baik akan tetap memplajari berbagai tipe psikoterapi dan terus belajar dari setiap klien yang ditemui. Karena jika hanya tahu cara menggunakan palu, maka semua hal akan tampak seperti paku.